Selasa, 13 Juli 2010

Silence (Episode 17)


Sinopsis Silence
Episode 17


Kepada Wei Yi, Xiao Guang menasehati supaya pemuda itu mau memberitahu tentang penyakit yang diderita pada sang ibu Mei Ru. Belakangan, ucapan dari Huang Zhi Ye tentang perumpamaan yang disampaikannya semakin meneguhkan niat gadis itu untuk kembali mempersatukan Wei Yi dan Shen Shen.

Menemui Shen Shen dirumahnya, Xiao Guang memberikan alamat tempat Wei Yi berada sambil menyebut bakal berubah pikiran bila sang rival tidak lekas menjemput pria yang sama-sama mereka cintai itu. Mengatakan bahwa itulah caranya mencintai Wei Yi, Xiao Guang melangkah keluar sambil meneteskan air mata.

Dengan cepat, Shen Shen langsung pergi ke alamat yang dimaksud dan setelah sempat berpapasan dengan Zhi Ling (yang terburu-buru berangkat kerja), ia langsung memeluk Wei Yi saat pria itu muncul. Wei Yi sendiri akhirnya menyerah dan dalam hatinya berjanji bakal terus mencintai Shen Shen di sisa hidupnya yang tinggal sebentar lagi.

Sesampai dirumah, Shen Shen langsung disambut dengan kekecewaan Zuo Jun yang meski tahu kalau Wei Yi sudah ditemukan, masih belum bisa melepas gadis yang telah dicintainya sejak lama itu. Bertekad untuk menjadi sosok pria yang baru, Wei Yi bertekad membuktikan pada diri sendiri dan ibunya kalau ia bisa hidup mandiri.

Zhi Ye yang dipusingkan oleh ulah sang kakak yang tidak henti-hentinya menanyakan soal Wei Yi akhirnya tahu kalau Xiao Guang telah rela melepas mantan tunangannya tersebut, dan tersenyum gembira. Rupanya, gadis itu benar-benar berniat untuk memulai hidup baru.

Masa-masa bahagia Shen Shen dan Wei Yi dimulai, gadis itu kerap menyambangi kediaman baru pemuda itu, memberikannya nasi daging bakar yang sangat enak, dan saling bercanda satu sama lain. Dengan senyumannya yang khas, Shen Shen tidak henti memberi dorongan semangat pada pria yang dicintainya itu. Bahkan, Wei Yi dengan rela menemani Shen Shen ke pasar meski hanya memakai sendal jepit dan celana pendek (pinjaman dari Zhi Ye).

Bersepeda bersama Shen Shen dan merasakan nikmatnya menghirup udara bebas, mendadak penyakit Wei Yi kumat sehingga keduanya terjatuh. Shen Shen yang semula tidak tahu apa-apa akhirnya sadar ada sesuatu yang salah dengan pemuda itu, namun usahanya memaksa Wei Yi (yang masih saja berusaha menutup-nutupi) untuk mau pergi ke rumah sakit gagal.

Dengan penuh kekuatiran, Shen Shen berhasil menuntun Wei Yi kembali ke kediamannya dan tidak henti berada disamping pembaringan pemuda itu. Begitu bangun keesokan harinya, Wei Yi terkejut saat mendapati Shen Shen tertidur disampingnya, dan sadar kalau gadis yang dicintainya itu tidak pulang.

Namun dibalik hubungan mereka, masing-masing menyimpan kekuatiran. Wei Yi menganggap dirinya egois karena memilih bisa 'pergi' dengan Shen Shen disampingnya, sementara Shen Shen merasa cinta yang begitu besar membuatnya harus mengorbankan Zuo Jun. Dengan berat hati, gadis bisu itu akhirnya memutuskan untuk pindah.


***

Namun, keterkejutan tersebut langsung berubah menjadi kebahagiaan yang berlipat ganda saat tahu Shen Shen memutuskan untuk 'mengungsi' tinggal bersamanya. Wei Yi langsung memanfaatkannya dengan menjalani masa-masa indah tersebut mulai dari membersihkan kaca hingga mencuci baju bersama-sama.

Di balik kegembiraan itu, tentu saja ada pihak lain yang berduka : Paman Zuo dan Zuo Jun. Mengaku kalau dirinyalah yang menasehati Shen Shen supaya pergi, pria setengah baya itu berharap hal tersebut bisa membuat gadis yang telah dianggap sebagai putrinya itu bisa bahagia. Ucapan tersebut langsung dibalas oleh Zuo Jun yang menyebut akan berusaha mendoakan kebahagiaan Shen Shen meski hatinya sakit.

Meski kerap diwarnai oleh kemuncula Zhi Ling, kehidupan Wei Yi dan Shen Shen praktis sangat bahagia. Sayangnya, pemuda itu masih memilih untuk menyimpan sendiri rahasia penyakitnya dan dalam hati berharap gadis yang dicintainya itu mau mengerti.

Walau sudah pindah, tentu saja Shen Shen tidak melupakan sosok keluarga Zuo. Keesokan harinya, ia mendatangi tempat Paman Zuo berjualan dan membantu pria setengah baya itu seperti biasa. Setelah semuanya beres, keduanya makan nasi daging bakar bersama dan dengan terharu, gadis itu mendengar penuturan sang paman yang menyebut bahwa kepindahan Shen Shen sama seperti menikahkan putrinya dengan orang lain.

Wei Yi akhirnya benar-benar bisa merasakan indahnya hidup, ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali Shen Shen ada didekatnya. Suatu hari, mereka dikejutkan oleh kunjungan dari seseorang yang telah lama dirindukan pemuda itu : Mei Ru ibunya.

Selain untuk melepas rasa kangen, wanita itu juga memberikan sebuah surat yang ternyata datang dari A Han di Pulau Hijau. Malamnya, Wei Yi yang kalah suit mendapat giliran memasak, tapi sudah tentu rasanya tidak keruan. Namun saat berniat menyingkirkan makanan buatannya, Shen Shen mencegah dan menyebut bahwa itulah makan malam paling membahagiakan dalam hidupnya.

Hari demi hari berlalu dan tanpa terasa saat-saat akhir kehidupan Wei Yi makin dekat. Lewat rekaman yang diperuntukkan untuk Mei Ru ibunya, barulah pemuda itu sambil menahan tangis mengaku kalau tidak rela melepas semua kebahagiaan yang dirasakannya bersama Shen Shen. Bisa dibayangkan, betapa menderitanya perasaan Wei Yi.

Ketika ditemui Xiao Guang keesokan harinya, Wei Yi berterus-terang bahwa dirinya yang sekarang benar-benar takut akan kematian. Di tempat lain, sang ayah Zhen Yang berhasil mendapatkan informasi tentang Shen Shen, dan ternyata ayah gadis itu memiliki hubungan masa lalu dengannya.

Melihat pemuda yang masih dicintainya itu menangis sesunggukan, Xiao Guang yang tidak tega akhirnya memeluk Wei Yi sambil berusaha menenangkannya. Dengan terbata-bata, gadis itu menasehati Wei Yi supaya mau menghadapi semuanya dengan berani karena hanya dengan demikian, restu gadis itu terhadap hubungan mereka tidak sia-sia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar